Day 1

08/02/2015. Minggu. 16.36-18.00

Sekarang saya sedang duduk di bangku paling pojok, bangku kayu coklat, di dalam kedai donat paling populer di kota besar Indonesia saat ini. J-Co..di dalam mall teramai di kota Depok, Margo City.  Pada hari dimana warga Depok dan sekitarnya juga sedang ramai menghabiskan waktu bersantai ke luar rumah..Hari Minggu.

Hari ini saya mengawali hari tidak dengan cukup baik, dari kemarin malam batuk-batuk akut yang telah saya rasakan selama dua minggu tidak kunjung reda. Tidur saya akhirnya terpaksa terganggu oleh batuk ini. Hasilnya tadi subuh, setelah melaksanakan sholat subuh dua rakaat, badan saya terpaksa menyerah untuk kemudian tidur lagi. Tidak baik sebenarnya tidur selepas subuh di pagi hari, ini bukan masalah norma adat istiadat Indonesia yang sangat percaya bahwa pagi hari adalah waktu paling baik untuk mengais rezeki, juga bukan masalah hari Minggu adalah hari libur dimana kamu bebas tidur seharian. Ini adalah masalah saya yang dalam beberapa hari kerap mengalami insomnia dan ketika subuh merasakan kondisi badan tidak fit karena tidur terlalu larut, selama beberapa minggu pola tidak sehat ini terus berjalan. Tidur larut..bangun subuh..kemudian tidur lagi hingga siang. Sangat tidak baik karena artinya saya hanya memiliki sedikit waktu produktif untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan bermanfaat..atau sekedar berjalan-jalan di jalanan kota Depok atau Bogor yang semrawut untuk menikmati indahnya pola jalanan dan bangunan yang tidak beraturan, menikmati indahnya senyuman garis wajah orang Indonesia, atau mengagumi pigmen melanin coklat sawo matang bangsa saya.

Kembali ke tempat saya sekarang berada, Kedai donat yang sedang sangat ramai sore ini. Kenapa akhirnya saya bisa sampai duduk di salah satu bangku kayu coklatnya adalah sebuah perjalanan hedonistik paling boros yang pernah terjadi menurut saya. Saya sebenarnya adalah orang yang bisa dibilang sangat hemat. Saya jarang menghabiskan uang untuk membeli gaun ataupun model hijab eksklusif yang harganya rata-rata berada dia atas kisaran 100K. Saya juga jarang membeli buku-buku best seller seharga 50K ke atas, pun untuk urusan makanan saya lebih banyak memercayakan warung-warung makan lokal untuk disinggahi. Tetapi sore ini saya justru memutuskan untuk membeli dua buah donat topping cokelat dan green tea seharga 14K. Dengan uang 14K itu saya bisa membeli satu bungkus nasi padang berlauk dendeng, sejumput sayur singkong, dan kuah santan, serta taburan serbuk rendang. Tetapi saat ini nafsu hedonistik saya menginginkan lidah saya untuk merasakan campuran adonan tepung terigu, gula, telur, yang di goreng secara deep frying kemudian dilapisi topping gula cair yang diberi sedikit coklat dan sedikit perasa green tea. Dari tadi pagi saya belum makan apapun, kemudian sore ini saya menghabiskan 14K untuk mengonsumsi snack tinggi karbohidrat dan gula yang tinggi kalori namun miskin nutrisi. Apapunlah kalkulasi untung rugi yang sedang saya pikirkan saat ini, toh semuanya telah terjadi. Sekarang dua buah donat itu sudah habis, uang 14K di dompet saya pun telah berpindah tempat ke laci kasir pegawai J-Co.

Begitulah kita, manusia. Suka menciptakan pikiran-pikiran rumit sendiri. Suka menghitung kalkulasi untung rugi. Suka berpikir tinggi-tinggi yang idealis, namun juga suka membiarkan diri kita menyerah tertawan pada nafsu hedonis, juga seringkali tidak disiplin. Bagaimana jika cara pandang saya diubah menjadi lebih positif sedikit. Alhamdulillah saya masih bisa merasakan duduk di kedai donat yang nyaman ini, bisa mendengarkan musik ala cafe pemacu kreatifitas berpikir yang diputar di ruangan, masih punya uang 14K untuk membeli donat, masih bisa merasakan lezatnya rasa topping cokelat dan green tea. Lagipula ini adalah momen langka yang tidak sering terjadi, nikmati saja kenikmatan dunia ini sesekali, sambil terus menajamkan nurani dan fikiran, bahwa di luar sana tidak semua manusia seberuntung kita. Ya, maksud saya, di luar sana, tidak semua manusia punya kesempatan bisa duduk nyaman di bangku kayu cokelat ini menikmati dua potong donat mahal sambil diiringi musik instrumen cafe di bawah sejuknya angin dari putaran kipas angin yang menempel di langit-langit kafe. Kalau kamu masih bisa memikirkan masyarakat kurang beruntung di luar sana, saya yakin kamu akan sangat menyesali terlalu banyak uang yang kamu habiskan untuk bersenang-senang saat ini. Saya yakin kamu akan segera mencari rekening lembaga-lembaga kemanusiaan untuk mendonasikan minimal 10% dari total uang di dompetmu. Tetapi tampaknya, kebanyakan manusia yang telah terbuai surga dunia tidak akan sempat memikirkan ketimpangan masyarakat lemah di luar sana kan? Semoga saya salah.

Ya, di sini saya, masih duduk dengan nyaman di bangku kayu cokelat Kedai Donat paling ngetrend sekota Depok. Kenapa akhirnya saya memutuskan untuk menulis saat ini, karena saya tidak rela uang 14K dan kenyamanan yang sekarang saya rasakan tidak membawa efek samping lahirnya karya produktif. Makanan enak yang kamu makan sekarang itu bukan hanya berguna untuk memuaskan indera pengecap saja, atau menjadi timbunan lemak yang membuncitkan perut, tapi dia hadir sebagai sumber energi bagi raga manusia dalam melakukan kerja produktif yang bermanfaat.

Untukmu yang belum bisa merasakan nikmatnya sepotong donat cokelat, yang belum bisa merasakan nyamannya suasana cafe mahal, izinkan aku menceritakan sedikit rahasia ini kepadamu: yakinlah bahwa kami yang sedang duduk di sini hanya merasakan kenikmatan semu sesaat, begitu donat ini telah habis dan kami telah keluar dari ruangan ini, sebagian dari kami kembali menjalani beratnya beban sebagai “mesin uang”.dan budak “nafsu hedonis” Boleh percaya boleh tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s