Falsafah Jabat Sarungan

Kita dapat menambah falsafah hidup dengan beragam metode, baik itu dari mengamati lingkungan sekeliling, membaca buku, berdiskusi, pengalaman hidup diri sendiri dan orang lain, atau menonton film.

Saya baru saja mendapat falsafah menarik saat menonton film Negeri 5 Menara. Falsafah yang saya namakan Falsafah Jabat Sarungan ini dipindai dari skenario dialog ayah dan anak antara Ayah Alif dan Alif.

Skenario bermula ketika Ayah Alif mengajak Alif ke pasar subuh untuk menjual kerbau. Uang penjualan kerbau akan digunakan sebagai bekal biaya perjalanan mereka berdua ke Pesantren Madani, Ponorogo, dari kampung halaman di pesisir Minang. Ayah Alif melakukan transaksi tawar menawar harga penjualan kerbau ke pihak pembeli dengan kode-kode jabat tangan yang disorongkan ke dalam sarung. Tidak ada yang mengetahui berapa kesepakatan harga jual kerbau selain dua orang yang sedang bertukar kode jabat tangan sarungan tersebut. Akhirnya setelah saling sepakat dengan harga, barulah kerbau terjual.

Selepas dari pasar subuh, Ayah Alif dan Alif pergi duduk-duduk di muka pantai. Dialog antara dua pria berbeda generasi penuh makna berlangsung. Alif masih belum sepenuhnya bisa menerima keputusan Ibunya untuk mengirim anaknya ini ke pesantren, Alif ingin masuk SMA dan lanjut kuliah di ITB. Alif masih yakin SMA adalah sekolah laniutan yang paling baik untuk dirinya saat itu kemudian menyangsikan pesantren sebagai pilihan terbaik.

Ayah Alif paham kerisauan Alif, kemudian beliau memberikan analogi jabat tangan sarungan subuh tadi.

“Alif, saat hendak menjual kerbau tadi..ayah tidak tahu berapa harga terbaik untuk kerbau kita Nak. Yang ayah tahu..untuk dapatkan harga terbaik, Ayah harus masukkan tangan untuk berjabat tangan berikan kode ke pembeli di dalam sarung. Ketika ayah sudah jabat tangan pembeli..barulah ayah bisa tahu harga yang ditawarkan, ayah bisa bernegosiasi, kemudian mendapatkan harga terbaik bagi kerbau kita..

Begitu pula dengan dirimu, Lif. Pesantren itu belum kau masuki..masih tertutup “sarung” ketidaktahuanmu. Jika kau ingin tahu baik tidaknya, jabat ia..jabat erat..masukkan dirimu ke dalamnya. Saat kau telah ada di dalamnya, barulah bijak untuk berpendapat apakah pilihan itu yang baik atau tidak untukmu.”

Benarlah, seringkali kita secepat kilat menilai sesuatu itu buruk karena tertutup “sarung” ketidaktahuan. Begitu cepat memutuskan buruk sebelum berjabat tangan mengenali dinamika di dalamnya. Padahal, tidak ada salahnya menjabat dulu, jalani pekerjaan di depan mata sampai bertemu dinamika yang paling cocok dan bisa dikendalikan.

Bukankah titik-titik pekerjaan yang dibubuhkan hari ini akan membentuk kesatuan garis masa depan yang indah? Tidak ada yang sia-sia dari pekerjaan sepenuh hati…

Insya Allah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s